Friday, 19 February 2021

takut

Hari ini  rasa takut menghantam. Entah apa yang sedang terjadi dan akan terjadi.

Ferdy.... saya berteriak memanggilmu.

Ingin kubersembunyi dalam dekapanmu, menangis di bahumu.


Rasa takut hari  ini melebihi rasa takut kemarin.

Papa.... saya berteriak memanggilmu.

Tuesday, 16 February 2021

cerita belum berakhir.........

 Bandung adalah kota yang indah, penuh rasa syukur Bandung menjadi tempat kelahiran bagi Hera.  Gunung Tangkuban Parahu sangat akrab dengan matanya, karena setiap pagi Hera menghadap Utara melihat indahnya Gunung Tangkuban Perahu dari halaman rumah. Masa kecil yang indah, halaman rumah  tumbuh pohon buah-buahan. Mangga, alpukat dan jamu klutuk.  Di dahan pohon jambu klutuk tempat Hera  asyik bersembunyi atau untuk naik ke atap rumah.

Ranting buah bangkuang berebut pagar dengan buah paria dan kecipir disamping  pohon kacang roai. Tak ketinggalan pohon sirih, karena nenek setiap hari makan sirih.

Sekarang .....

Hera telah di makan usia. Rumah orangtua tempatnya dibesarkan sudah tak ada lagi, hanya ada dalam angan  menjadi kenangan. Rambutnya  memutih di makan usia, tapi masih tetap galak.

Kehidupan  harus dijalani,  penuh warna. Kehidupan Hera tak seindah dalam dongeng, jatuh bangun dijalani. Terjatuh, karena tak seorangpn di dunia ini mengharapkan kehancuran. Terjatuh dan  harus dapat bangkit untuk tetap melanjutkan  kehidupan. Saat berada di bawah karena terjatuh jangan pernah berteriak minta  tolong kepada saudara atau teman, karena di antara mereka ada yang bertepuk tangan saat melihat seseorang terjatuh. Jadi terimalah semua  hinaan dan celaan dengan lapang dada, lumayan juga untuk menbayar dosa atau kesalahan yang telah kita buat.  Atau hinaan dan celaan adalah anugrah dari Yang Maha Kuasa untuk menaikan derajat kemanusiaan(jalma.manusa).  Siapkanlah hati seluas samudra. 

Bersujudlah kepada Sang Maha Pencipta, bukalah tangan lebar-lebar menengadah ke langit. Berserah diri dan mengingatkan diri sendiri untuk tidak melupakan Sang Maha Pencipta di saat datang kesejahteraan.

Jatuh - bangun membuat Hera semakin kuat menghadapi hidup.  Sahabat sejatinya adalah diri sendiri, yang akan tetap ada menemani dirinya di saat suka atau duka. Menemukan kebahagiaan di dalam diri dan bersahabat dengan diri sendiri. Jatuh cinta kepada diri sendiri, dan menyayangi diri sendiri. Karena sesunguhnya manusia dapat menyayangi manusia lain setelah seseorang menyayangi diri nya. Karena seseorang menyayangi dirinya, dapat dipastikan akan menjaga dirinya dengan baik.Tidak akan mencelakai orang lain karena dirinyapun tidak ingin dicelakai. Segala tingkah laku akan diukurkan kepada diri sendiri. Berbicara dengan sendiri kepada diri sendiri, orang-orang menilainya sebagai "manusia gila atau tidak waras", atau sering dikatakan berkepribadian ganda. Tapi itulah kenyataan.

Hera mampu untuk tidak peduli dengan anggapan atau penilaian orang lain, tampak sangat egois. Itulah kekuatanya. Jalan hidup yang dipilih sering membuat orang tergagap.  Teman yang maaf"merasa" benar dan menuding jalan hidup yang dipihih Hera "salah". 

Hera hanya dapat tersenyum mendengar semua saran dan nasihat, dalam hati Hera berseru bahwa yang dibutuhkannya saat ini adalah sedikit rezeki untuk menyambung hidup bukan  "nasihat".

Terlalu lelah Hera menjelaskan apa yang telah terjadi pada dirinya, jadi Hera hanya akan tersenyum. Hera tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi terhadap dirinya yang nyaris tidak masuk akal.

Disadari oleh Hera, bahwa kehidupan yang dijalani bukanlah pilihan. Hidup mengarah kepada jalan yang tidak pernah  dibayangkannya. Keadaan memaksa kepada jalan yang harus dilaluinya, suratan takdir.......

Hera tak dapat memilih!!. Jatuh bangun  menjalani kehidupan adalah warna-warna yang mewarnai hidup. Tetap tegar, dua buah pantangan yang dilakukan Hera; Pantang mundur dan pantang menyerah!. Selama nafas masih ada cerita belum berakhir.

Badai dan gelombang hidup menjadikan Hera mampu berdamai dengan diri sendiri dan menerima kenyataan hidup apa adanya dan mengikutinya  air mengalir, penuh rasa syukur dan sukacita.

Bahagia ada di dalam diri, manusia sering terjebak dan terpenjara oleh pikiran dan cara keluar dan mengendalikannya adalah dengan pikiran itu sendiri.

Berkelanalah..... bukankah itu yang banyak dilakukan para pandita di zaman lampau  sebagai salah satu cara "BETAPA".

Betapa menyedihkan.

Betapa menyakitkan.

Betapa nelangsanya

Betapa sepi.

Betapa ....

Hingga sampai "nelangsa",  yang menjadi titk balik sebagai bendera perdamaian untuk diri sendiri. Hidup bukanlah angan-angan, hidup bukan hayalan. Hidup di dunia ini fatamorgana, semu.

Kenyataan harus dihadapai dijalani dengan "benar".

"Benar", ternyata tak mudah pula mencari ke"BENAR"an sejati.  Kebenaran sejati tersamar dalam   ke"SALAH"an opini masyarakat. 

Yaaa.. sudahlah. "it's my life", kata Bon  Jovi juga.

Berkelana.... sendiri!.

Musafir............

Sepenggal kalimat wayang golek;

Gusti nga dawuh ka dunya,:"Dunya mangga kuwasaan manusa-manusa nu sujud ka dunya, tapi sabalikna dunya kudu sujud ka manusa nu sujud ka GUSTI".

Berkelana sebagai musafir....... betapa!!!.

Bandung sebagai kota asal telah lama ditinggalkan  Hera. 

Jakarta

Manado

Bekasi

Depok

Bandung

PekanBaru 

Sampit di kebun sawit. Walaupun saya mati, saya ingin  menjadi setan, dan saya akan mengejarmu!.

Jakarta di asrama BS(Batalyon Siliwangi).

Bekasi 

Sukabumi di kaki Gunung  Gede Pangrango di desa Cidadap,  Muara Dua. Kadudampit. "Gelut sia jeung aing".

Lampung, kelurahan Gunung Terang. "nyumput di nu kawas kitu, atuh moal aya anu nyangka"

Ciptagelar di puncak Gunung Halimun. "orang paling kejam sedunia"

Bogor(Ciptamekar), di puncak Gunung Salak, desa Tarikolot.

Kemana lagi kah?. Hati Hera bertanya. Karena Hera tak tahu lagi harus ke mana.?. Tempat berteduh tak dimilikinya lagi.

Hanya beberapa potong pakaian saja yang dimilikinya.

Teman-teman hanya bertanya: "tinggal di mana?", saat di jawab tidak punya tempat tinggal merekapun langsung MEMUTUSKAN HUBUNGAN silaturahmi. Bersyukur!.

Teman sejati..... hanyalah untaian indah saat manusia memiliki harta.

Rasa syukur terus bertambah dalam hinaan karena  dalam ke "fana"annya Hera menemukan teman sejatinya, yaitu dirnya sendiri yang dipenuhi rasa syukur kepada Sang Maha  Pencipta.

Kedamaian di capainya dengan memaafkan semua orang-orang yang menghinanya, yang membencinya entah dengan alasan apapun.

Hera menemukan kedamaian di dalam dirinya sendiri dan teman sejati adalah dirinya sendiri.

Tangis untuk dirinya sudah tak ada lagi, air mata Hera telah kering . Airmata yang membanjiri perjalanan hidupnya telah habis.

Dalam kesadaran diri Hera berserah, sadar bahwa hidup dan kehidupan hanya milik Yang Maha Kuasa.

Manusia tak berdaya dihadapanNYA.

Sebagai wayang, Hera hanya menunggu entah kapan akan dilakonkan  oleh dalang yang memiliki cerita yang sudah di atur olehNYA.

Akhir cerita sudah dapat dipastikan TIDAK AKAN PERNAH dapat di ceritakan, karena tibalah saatnya untuk kembali kepada Sang Khalik mempertanggung jawabkan kehidupan di dunia ini untuk membayar hutang nafas yang telah diberiNYA.

Hidup adalah mencari kebenaran sejati, untuk dapat menjalani hidup dengan "benar" dan dapat kembali kepada cahaya asal

Manusia adalah mahluk cahaya dan harus mampu untuk kembali kepada cahaya asal agar tidak terperangkap oleh unsur bumi/materi??.

Saat memiliki ke"sadar"an diri betapa bahagia nya hidup ini tidak memiliki ikatan dengan "materi".  Mengerti arti dalam kekayaan yang hakiki, kekayaan yang ada di dalam hati. Hidup menjadi ringan dan siap untuk kembali


Papa, Mama, Ferdy..... jemputlah  Wawa segera!.






sakit yaa....

Rasa lelah membuat Hera tertidur di lantai. Samar-sama terdengr ketukan di jendela  kaca kamar. Setengah mengantuk..... tapi masih dapat berpikir wajar,  bahwa tidak mungkin orang berdiri di depan jendela mengetuk jendela kamar. Karena di bawah jendela ada kolam ikan yang penuh terisi air.

Dalam hati Hera berseru:"Bila sesuatu yang baik, silahkan ketuk lagi, tapi bila jahat pergilah".

Kaca jendela kembali di ketuk, dengan ketakutan Hera bangun dan merapatkan tubuhnya ke dinding tembok. Sambil berteriak dalam hati memanggil leluhur suci. Badan Hera tersandar kaku di sudut tembok kamar, ketakutan......

Duduk sila dihadapan Hera seorang tua berpakaian putih berkilau, wajahnya tersenyum ramah. Tampak sangat berwibawa dan masih menyisakan ketampanan. Lidah Hera kelu, tak terucap sepatah katapun, tapi hatinya bercerita  panjang lebar dan tak ada yang di ingatnya.

Hera sempat melupakan kejadian itu, tapi yang terjadi adalah celaka dan kecelakakan ditambah rasa sakit yang tak tertahankan. Bapak Udin tetangga rumah telah menolongnya dan mengatakan kalau radang usus parah telah membuat usus menjadi rapat.  Putus asa menyelinapdi hati Hera, dengan berserah diri Hera  menginjakan kakinya ke bumi dan berserah. "GUSTI mangga nyanggakeun", membuat  Hera tertidur lelah.

Pagi hari diantar Bapak Nas, Hera di bawa ke rumah sakit untuk perawatan. Rasa sakit tak tertahankan membuat Hera pingsan. Di tolong penjaga pintu ruang gawat darurat rumah sakit, Hera di gotong masuk.

Hera kembali sadar saat di ruang ICU dan memandang sekeliling. Disamping  tempat tidur Hera tampak seorang kakek yang sudah hampir kehilangan nafasnya, hati Hera berkata, "Bahwa kakek itu akan segera di jemput".

Hera memandang sekeliling ruangan  yang penuh dengan pasien-pasien. "Pak Nas, saya sih asal bisa kentut juga sembuh!", seloroh Hera kepada Pak Nas. Pak Nas hanya tersenyum.

"Dokter, saudara saya ini asal bisa kentut juga sembuh", ucap Pak Nas kepada dokter yang memeriksa.

Dokter memeriksa tubuh Hera.

"Sakit", kata dokter sambil memeriksa bagian perut.

"Tidak".   "Sakit?", "Tidak".

"Dokter saya tidak mau di rawat inap, karena suami saya dua  bulan di rawat inap tetap meninggal, jadi saya pasti akan kabur kalau harus rawat inap", ucap Hera.

Dokter hanya tersenyum dan berkata,"Umur di tangan Tuhan".

"Ya sudah kalau tidak ada rasa sakit boleh pulang dan saya beri obat supaya bisa kentut, kalau ada rasa sakit lagi Ibu langsung ke bagian penyakit dalam ya", ucap dokter muda itu dengan sabar.

Hera langsung loncat dari ranjang rumah sakit dan bergegas keluar.

Penjaga pintu yang tadi membantu mengangat Hera tertegun.

"Ihhh... Ibu sudah sembuh", ucapnya kaget.

Hera hanya tersenyum melihat penjaga pintu yang tampak kaget.






Thursday, 11 August 2016

ANGRY MOM

Berjalan disepanjang jalur hijau menuju kampus di samping pintu masuk bandara Halim Perdana Kusuma, tangan mama tak lepas dari pergelangan tangan.
Langkah kaki tak terdengar lagi, dengan gaya lantang seperti biasa nya Mama berceloteh, yang ku anggap sebagai kicau burung di pepohonan rindang di sepanjang jalur hijau.
"Peraturan di buat untuk di langgar", tegas mama.
Aku terpana mendengar kalimat yang sangat bertentangan dengan nasihat orang tua pada lazimnya.
"Ada dua peraturan yang tak dapat di langgar dan jangan di langgar", tegas nya lagi.
Mulutku terkatup tak dapat berkomentar, dengan pikiran bingung aku mendengarkan celoteh dan kicauan mama.  Hihihi... aku tersenyum dalam hati.






























































































































hari ini

.Agustus 11, 2016.

Airmata mengalir tertahan.
Tak ada hidangan di meja makan.
Bersyukur perasaan lapar sudah hilang


Tuesday, 3 September 2013

Ganjaran.

Memohon ampun kepada Yang Maha Kuasa, atas segala kesalahan dan khilaf  yang telah kita perbuat.
Memohonkan ampun kepada Yang Maha Kuasa, atas segala kesalahan dan khilaf yang telah diperbuat  orang tua kita.
Memohon ampun kepada yang Maha Kuasa, atas segala kesalahan dan khilaf yang telah di perbuat oleh semua orang-orang terhadap kita.
Mohon kan kepada Yang Maha Kuasa  ampunan dengan hati yang tulus dan iklas.

Menyadari kehidupan yang singkat di dunia ini, dan harus di pertanggung jawabkan oleh setiap insan manusia peziarah  di bumi ini.
Yang Maha Kuasa memberikan ganjaran pahala dan dosa, berkat dan hukuman.
Yang Maha Kuasa Sang Maha Adil, tak  satupun perbuatan insan manusia akan luput dari ganjaran.
Jangan sedih dan susah bila diperlakukan tidak adil oleh sesama manusia, karena keadilan pasti akan dirasakan.
Sebagai manusia kita tidak berhak mengadili. Bersyukurlah bila merasa diperlakukan dengan tidak adil, karena itulah kesempatan menyadari kesalahan yang akan/pernah di perbuat agar kita dapat memohon ampun.

Hidup singkat di dunia fana ini adalah ujian.
Tobat hati atas kelakuan/perbuatan yang menyalahi ajaran agama.
Tobat hati atas kelakuan/perbuatan yang menyakiti/menyusahkan sesama manusia.
Bersyukurlah.
Manusia sebagai ciptaan Yang Maha Kuasa yang paling mulia.
Manusia memiliki akal budi.

Bersyukurlah selalu kepada Yang Maha Kuasa sang Maha Adil.
Atas kesadaran dalam  menjalani hidup ini dengan akal budi yang sehat.


Tuesday, 4 September 2012

Pulang.....

Sinar mentari pagi menyelinap di lorong rumah sakit, menghangatkan badan yang terasa dingin setelah hampir dua bulan tidur di ruang tunggu ICU, rumah sakit.
Duduk sendiri menyepi di taman rumah sakit sambil tak henti-hentinya mendaratkan doa rosario.
Hati Hera terasa nyeri melihat Ferdy merejang dan mengejang karena alat ventilasi yang dipasangkan pada paru-parunya.
Lembaran kertas dan ballpoint bertuliskan, ... "PAPI SAYANG ANAK-ANAK DAN MAMI".
Itulah kata terakhir Ferdy untukku.

Pikiran Hera menerawang kosong. Kalau saja seandainya Hera tidak menandatangani persetujuan untuk pemasangan "ventilator' pada tubuh Ferdy, mungkin Ferdy akan tetap bisa bicara.
Tapi kalau tidak di tandatangani dan Ferdy meninggal.....?, salah juga.
Perasan berkecambuk di pikiran dan hati Hera. Serba salah.
Hera masuk menyelinap ke dalam ruang ICU.
Monitor yang terpampang di atas tempat tidur rumah sakit menunjukan angka 100 untuk detak jantung nya dan.... 10 nyaris nol untuk nafas
Hera berharap mujizat akan terjadi.
Hera tak ingin mempercayai apa yang di lihatnya di layar monitor.
Hera berharap Ferdy tetap hidup untuk menemaninya sampai tua nanti.

Dokter memanggil Hera dan memintanya untuk menunggu di luar, karena para dokter butuh waktu untuk mengambil keputusan.

Jam 10 tepat speaker rumah sakit memanggil nama "HERA: untuk segera masuk ke dalam ruang ICU... sekumpulan dokter yang mengelilingi tempat tidur Ferdy di rawat memandang Hera dengan wajah yang sangat tenang dan mengatakan: "Ibu,.. kami para dokter memutuskan bahwa....Bapak meninggal pada jam 10 pagi ini".
Hera terhenyak tak ada sepatah katapun terucap dari mulutnya. Hera berlari ke balik ruangan dan menjatuhkan diri nya terduduk.
Dokter anastesi menhampri Hera dan mengenggam tangan Hera, Ibu saya yakin Ibu tabah menghadapi ini semua.
Hanya sinar mata Hera yang nanar, tak terucap kata-kata.
Hera tak boleh hanyut dalam keadaan nyata, bahwa Ferdy telah meninggal. Pergi untuk selama-lamanya.

Benar juga seperti buah simalakama, ditandatangani .....? tidak ditandatangani......?
Tuhan.... kuserahkan kepadaMU, segala yang terbaik menurut kehendakMU.
Terimalah Ferdy di sisiMU dalam istirahat kekal yang terang oleh sinar abadi wajahMU

Ferdy...... jawablah permohonanku dan kabulkan lah.
Jemputlah aku segera, karena tak ada satupun laki2 yang mencintaiku.
Mereka hanya memperalat dan mempermainkanku.

Ferdy...... jangan biarkan aku sendiri terlalu lama.
Aku tahu engkau tetap menyayangiku.
Jemputlah aku segera!.